SURABAYA – Pakar Tata Kota dari Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya (Untag Surabaya), Dr. Ir. RA. Retno Hastijanti, M.T sangat memprihatinkan kondisi makam kuburan Rangkah kota Surabaya yang tidak terawat adanya banyak lobangan air. Lobangan air tersebut membuat para ziarah kehilangan makam saudara. Selain itu mengganggu akses jalan para peziarah saat berkunjung di makam keluarganya. Terutama momen menjelang bulan Ramadan dan Idul Fitri.
Retno Hastijanti mengungkapkan bahwa makam bukan sekadar lahan pemakaman, melainkan memiliki makna sosial dan kultural yang mendalam bagi masyarakat Indonesia. Makam menjadi pengikat antara yang hidup dan yang telah meninggal, sekaligus penghubung antara warga yang tinggal di Surabaya maupun yang berada di luar kota.
“Makam itu bagian dari identitas kota. Ketika orang merantau dan kembali ke tanah kelahirannya, salah satu yang mereka tuju adalah makam orang tua atau leluhurnya. Di situlah rasa memiliki terhadap kota tumbuh dan terjaga,” ujar Retno, saat ditemui Minggu lalu.
Ia menambahkan, kepedulian terhadap makam juga mencerminkan penghormatan terhadap sejarah dan akar budaya suatu daerah. Generasi muda sekalipun, meski aktif dan memiliki mobilitas tinggi, tetap memiliki keterikatan emosional dengan kota asalnya, salah satunya melalui tradisi ziarah ke makam keluarga.
Namun, Retno menyayangkan masih ditemukannya makam yang tergenang air akibat persoalan drainase. Banyak peziarah mengeluhkan kondisi tersebut karena genangan air menutup area pemakaman hingga menyulitkan mereka menemukan makam keluarga dan akses jalan menuju makam keluarganya.
“Persoalan ini menarik dan penting untuk diperhatikan. Ketika kita berbicara tentang banjir di Surabaya, perhatian sering tertuju pada jalan raya atau proyek infrastruktur besar. Padahal, ada titik-titik yang luput dari pemantauan, termasuk area makam yang mengalami blank spot dalam sistem drainase,” jelasnya.
Menurutnya, pengawasan dan pemeliharaan makam seharusnya menjadi bagian dari tugas dan fungsi pemerintah daerah. Jangan sampai fokus pembangunan hanya terpusat pada proyek fisik yang terlihat di ruang publik, sementara fasilitas sosial seperti makam terabaikan.
Retno menegaskan bahwa genangan air di area makam bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga menyangkut aspek kemanusiaan dan penghormatan terhadap warga. Pemerintah diharapkan lebih responsif dalam melakukan evaluasi sistem drainase serta meningkatkan perhatian terhadap pengelolaan dan perawatan makam di Surabaya.
“Jangan sampai makam terlupakan hingga peziarah kesulitan mengenali makam keluarganya, karena tertutup genangan air. Ini menyangkut rasa hormat dan tanggung jawab kita terhadap ruang-ruang memori di kota ini,” pungkasnya.(Ham)



















