JAKARTA — Proklamator sekaligus Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno (Bung Karno), merupakan representasi nyata dari perpaduan utuh antara tokoh nasionalis dan tokoh Muslim. Penegasan ini disampaikan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005-2015, Prof. Dr. M. Din Syamsuddin, saat memberikan ceramah dalam acara Haul ke-56 Bung Karno di Masjid At-Taufik, Lenteng Agung, Jakarta Selatan.
Acara yang diprakarsai oleh DPP Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) PDI Perjuangan ini dihadiri oleh ratusan jemaah serta sejumlah tokoh penting partai, termasuk Dr. Ahmad Basarah yang mewakili Megawati Soekarnoputri.
Dalam ceramahnya, Din Syamsuddin membeberkan bukti sejarah yang kuat mengenai kedalaman wawasan keislaman Bung Karno. Salah satu puncaknya adalah penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa di bidang Filsafat Ilmu Tauhid oleh Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) pada 3 Agustus 1965. Penghargaan tertinggi ini diberikan karena Bung Karno dinilai mampu menempatkan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai pusat dari seluruh sila dalam Pancasila.
“Bung Karno memadukan antara wawasan kebangsaan dan wawasan keislaman. Bagi beliau, tidak ada pemisahan di antara keduanya karena cita-cita kemerdekaan Indonesia sangat selaras dengan nilai-nilai Islam,” ujar Din Syamsuddin.
Ia juga mengulas artikel Bung Karno pada tahun 1924 yang mengusung konsep “Islam Berkemajuan” sebuah gagasan yang seirama dengan pemikiran pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan. Pemikiran visioner ini pula yang melahirkan buku ikonis pada tahun 1940.
Buku tersebut merupakan bentuk autokritik Bung Karno terhadap cara beragama umat Islam saat itu yang cenderung dogmatis dan literal, yang dinilainya justru menghambat kemajuan bangsa.
Relevansi Trisakti di Era Modern
Selain aspek keagamaan, Guru Besar Politik Islam Global FISIP UIN Jakarta ini juga menyoroti ajaran Trisakti Bung Karno sebagai kompas moral bagi para pemimpin bangsa saat ini. Tiga pilar tersebut, adalah Berdaulat dalam politik, Berdikari (Berdiri di atas kaki sendiri) dalam ekonomi, dan Berkepribadian dalam kebudayaan.
Menurut Din, ketiga prinsip ini tetap sangat relevan dan harus diterapkan secara konsisten oleh generasi pemimpin masa kini agar Indonesia tidak kehilangan arah di tengah arus globalisasi.
Pesan untuk PDI Perjuangan
Sebagai salah satu tokoh yang ikut mendirikan Bamusi bersama almarhum Taufiq Kiemas, Din Syamsuddin menutup ceramahnya dengan pesan mendalam agar PDI Perjuangan tidak menjaga jarak dengan Islam dan umat Islam. Ia berharap Bamusi dapat terus menjalankan fungsinya seperti Jamiyatul Muslim di era Partai Nasional Indonesia (PNI) dulu, yaitu sebagai sarana dakwah sekaligus wadah pemersatu nasionalisme dan agama.
Acara haul yang berlangsung khidmat tersebut dimulai setelah ibadah salat Magrib dengan pembacaan tahlil bersama, dan ditutup dengan doa bersama untuk Bung Karno serta salat Isya berjemaah.

















