JAKARTA — Komitmen pemerintah dalam memulihkan sektor pendidikan pasca bencana di Pulau Sumatra menunjukkan progres yang sangat positif. Hingga pertengahan Mei 2026, sebanyak 3.084 sekolah dari total 4.992 sekolah yang terdampak kini telah menerima bantuan rehabilitasi dan revitalisasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Langkah cepat ini menjadi prioritas utama demi memastikan anak-anak di Sumatra bisa kembali belajar di ruang kelas yang aman dan nyaman. Percepatan ini berhasil terwujud berkat kerja sama solid antara Pemerintah Pusat dan DPR RI.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI), Muhammad Qodari, menegaskan bahwa pemulihan fasilitas pendidikan ini merupakan bentuk perhatian besar dan nyata dari Presiden untuk masyarakat Sumatra.
“Rapat koordinasi ini, merupakan perhatian yang besar dari Bapak Presiden, dari pemerintah dan DPR RI terhadap bencana yang terjadi di Sumatra,” ujar Qodari saat konferensi pers usai Rapat Koordinasi Penanganan Pascabencana Sumatra di DPR RI, Jakarta, Senin (25/5/2026).
Tidak tanggung-tanggung, pemerintah telah mencairkan anggaran sebesar Rp2 triliun untuk mendukung perbaikan fasilitas ini. Selain itu, anggaran tambahan sebesar Rp1,8 hingga Rp1,9 triliun saat ini sedang dalam proses pencairan untuk memastikan seluruh proyek berjalan tanpa hambatan.
Menteri Dalam Negeri selaku Ketua Satuan Tugas Percepatan Pascabencana, Tito Karnavian, memastikan bahwa sisa sekolah yang belum tersentuh fisik bangunan tidak akan diabaikan.
“Yang sekitar seribuan lagi itu bukan berarti didiamkan. Kementerian Dikdasmen akan melanjutkan kerja sama untuk rencana pembangunannya,” ujar Tito optimistis.
Solusi Jangka Panjang untuk Keselamatan Siswa.
Sembari menunggu pembangunan fisik selesai, pemerintah memastikan proses belajar mengajar tetap berjalan melalui skema kelas darurat dan fasilitas menumpang yang aman.
Sebagai langkah antisipasi masa depan, pemerintah saat ini juga sedang memfinalisasi skema relokasi bagi sekolah yang berada di zona merah (rawan bencana). Langkah ini diambil untuk menjamin keselamatan jangka panjang generasi penerus bangsa di Sumatra agar mereka dapat menuntut ilmu dengan tenang.(Amri)


















