BAROMETER — Kisah sepasang suami istri (Pasutri) yang bertemu dibalik jeruji besi, uang sebesar Rp 10 ribu menjadi momen suami bernama Sofian yang menerima uang dari Aminah sang istri dibalik jeruji besi tahanan Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, pada Kamis (24/9/2026).
Aminah mengungkapkan pemberian uang terhadap suaminya dengan nominal Rp 10 ribu. Lantaran dirinya benar-benar tidak ada uang lebih untuk diberikan pada sang suami.
“Saya tadi kesini naik bemo, saya kasih uang Rp10 ribu buat suami saya buat pegangan. Karena saya memang benar-benar tidak punya uang lebih dari itu,” ujar Aminah.
Nampak, Aminah tidak sendiri melainkan ditemani sang buah hati untuk melihat persidangan suaminya. Terdakwa dijatuhi tuntutan hukuman pidana penjara selama 10 bulan yang baginya waktu tersebut bukan waktu yang singkat.
Sementara, anak tumbuh, untuk memastikan biaya sekolah terbayar, untuk sekadar duduk bersama di meja makan. Di luar sana, keluarga itu menunggu. Di dalam, seorang ayah berharap keadilan tidak melupakan bahwa ia hanya berusaha menafkahi.
Sofian bekerja sebagai buruh bangunan yang kini berdiri sebagai terdakwa kasus dugaan pemerasan di kawasan Perak, Surabaya. Kisahnya bermula bukan dari kebiasaan mencari keuntungan tak sah, melainkan dari kehampaan dompet dan kebutuhan mendesak keluarga.
Aminah bercerita, menjadi tukang parkir bukanlah pilihan suaminya. Sehari-hari, Sofian adalah buruh bangunan. Namun saat proyek yang dikerjakannya selesai, ia kehilangan mata pencaharian selama seminggu.
Sedangkan putra sulung mereka duduk di bangku SMP swasta di Surabaya Utara, sementara dua putra lainnya menempuh pendidikan di pondok pesantren di Madura dengan biaya Rp150 ribu per anak setiap bulan.
Di tengah kecemasan itu, Sofian mencoba keberuntungan dengan mengatur parkir kendaraan di kawasan Perak. Namun nasib berkata lain. Seorang pengendara enggan membayar, terjadilah perselisihan. Sofian dilaporkan melakukan pemerasan. Sejak itu, ia berada di balik jeruji.
“Sekarang yang kami bisa lakukan hanya menunggu kebebasan suami saya,” ujar Aminah sambil menangis.
Sementara, Aminah saat ini menjadi tulang punggung keluarga, sehari-hari Aminah bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik bunga plastik dengan upah Rp50 per hari.(Am)

















