SURABAYA – Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kapasan V No 147, kelurahan Kapasan, Kecamatan Simokerto, Surabaya mengeluh adanya sajian Makanan Bergizi Gratis (MBG) berupa jambu yang berulat, pada Selasa, 3 Maret 2026.
Saat itu, MBG berisi telur rebus kondisi pecah, roti, kelengkeng dan jambu itu dibagikan ke para siswa. Disitulah diduga banyak jambu yang tidak layak konsumsi karena berulat di dalamnya.
Hal itu pun diakui oleh pihak SDN Kapasan V bahwa adanya jambu yang tidak layak konsumsi untuk siswanya. “Memang beberapa waktu lalu ada temuan buah jambu yang terdapat ulatnya,” keluh Zainal selaku Kesiswaan di SDN Kapasan V, saat ditemui awak media, pada Senin, (9/3/2026) siang.
Namun, tidak lama dilaporkan sajian yang bermasalah pihak MBG langsung meresponsnya. “Pihak MBG merespon dengan cepat, meminta maaf, dan segera mengganti buah yang bermasalah,” tambahnya.
Menurutnya, hal itu tidak hanya sekali ditemukan hal serupa. Namun oleh pihak sekolah, setiap makanan yang dilaporkan bermasalah langsung diganti oleh pihak penyedia. “Siapa pun yang makanannya bermasalah langsung diganti. Beberapa kali ada keluhan buah busuk, dan semuanya diganti,” ujarnya.
Pihak sekolah berharap program MBG sebagai program pemerintah dapat terus berjalan dengan perbaikan kualitas. Karena selama ini tidak jarang ditemukan makanan yang tidak layak. “Harapannya, jika ini memang program pemerintah yang dijalankan, kami sebagai penerima tentu mendukung. Namun, kualitasnya perlu terus diperbaiki agar benar-benar sesuai dengan namanya, yaitu makanan bergizi. Meskipun sudah berjalan, kualitasnya diharapkan bisa terus ditingkatkan menjadi lebih baik,” pungkas Zainal didampingi Nina selaku Humas SDN Kapasan V.
Terpisah, Pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) wilayah kecamatan Simokerto Surabaya juga membenarkan adanya temuan buah yang tidak layak dalam sajian MBG, yakni jambu dan pisang yang kondisinya busuk.
Hal itu disampaikan oleh Kepala SPPG Simokerto, Ahmad Bahtiar bahwa dirinya sudah mengganti buah yang tidak layak konsumsi, setelah adanya laporan temuan jambu yang berulat. “Untuk temuan memang benar adanya. Dari pihak kami langsung mengganti buah-buahan yang tidak layak tersebut. Kami juga berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk mendata dan meminta bukti foto. Bahkan kami tidak hanya mengganti buahnya, tetapi mengganti seluruh paket makanan secara penuh,” kata Bahtiar, pada Senin (9/3/2026) siang di kantornya.
Ia juga menerangkan, kejadian tersebut diduga terjadi karena kelalaian dari pihak penyedia bahan yang berasal dari pelaku Usaha Mickro, Kecil dan Menengah (UMKM). Karena selama ini buah yang diterima secara kasat mata terlihat baik, namun setelah dipotong ditemukan ulat di bagian dalamnya.
“Kami sebenarnya sudah melakukan penyortiran dan pembersihan sebelum makanan dikemas. Namun pada kasus kemarin, buah jambu yang terlihat bagus di luar ternyata di dalamnya terdapat ulat setelah dipotong. Jika harus membuka satu per satu buah sebelum dikirim, tentu akan memengaruhi ketahanan buah hingga keesokan harinya,” terangnya.
Menanggapi kejadian tersebut, pihak SPPG berjanji akan mengambil langkah evaluasi serta menyampaikan permohonan maaf kepada pihak sekolah. “Kami sudah datang langsung ke sekolah dan menandatangani surat pernyataan sebagai bentuk komitmen untuk melakukan evaluasi. Kami berharap ke depan pelaksanaannya bisa lebih baik,” ujarnya.
Bahtiar juga menambahkan bahwa dapur SPPG Simokerto masih tergolong baru sehingga masih dalam tahap pembenahan. “Saya mohon maaf atas kejadian ini. Dapur kami masih baru dan sedang berbenah. Jika ada kritik, saran, maupun masukan, silakan disampaikan. Kami terbuka terhadap evaluasi agar pelayanan ke depan bisa lebih baik,” tambahnya.
Sementara ditempat yang sama, Yanto yang mengaku sebagai pemilik (owner) SPPG, turut menjelaskan terkait nominal anggaran program MBG. “Anggaran Rp10.000,- per siswa diperuntukkan bagi kelas 4, 5, 6, serta tingkat SMP dan SMK, sedangkan kelas 1, 2, 3 dan TK menerima alokasi sebesar Rp8.000,- per siswa,” pungkasnya.
Pada sebelumnya, salah seorang wali murid SDN Kapasan V, mengeluhkan adanya sajian MBG yang dinilai tak layak konsumsi. Makanan yang tak layak konsumsi itu berupa buah jambu dan pisang. “Pisang dan jambu tak layak konsumsi. Takut kenapa-kenapa, jadi pisang dan jambu tidak saya suruh makan. Sajiannya juga kurang layak, dan tidak sesuai dengan anggaran yang ditentukan oleh pemerintah pusat,” ujar orang tua wali murid berinisal M, saat ditemui awak media pada Minggu lalu, di kediamannya di Donokerto.(Ham/Am)



















