LAMONGAN – Kejaksaan Negeri (Kejari ) Lamongan berkomitmen menuntaskan kasus dugaan tindak pidana korupsi. Kini, satu tersangka berinisial AM resmi ditahan terkait proyek pengurukan tanah Kantor Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Lamongan Tahun Anggaran 2017.

Penahanan terhadap AM dilakukan usai pelimpahan tahap II dari penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Timur ke Jaksa Penuntut Umum Kejari Lamongan, pada Selasa, (24/6/2025).

Tersangka AM diketahui menjabat sebagai Direktur CV Globalindo Utama. Ia diduga kuat terlibat dalam praktik korupsi sebagai konsultan perencana dan pengawas proyek pengurukan tanah yang volumenya tidak sesuai dengan pembayaran dari negara, sehingga menimbulkan kerugian keuangan negara sebesar Rp564 juta.

Kepala Seksi Pidana Khusus Kejari Lamongan, Anton Wahyudi, mengungkapkan bahwa tersangka dijerat dengan Pasal 2 ayat (1) dan/atau Pasal 3 Undang-Undang RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001, jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

“Penahanan dilakukan berdasarkan Surat Perintah Penahanan Nomor: Print-569/M.5.36/Ft.1/06/2025 tanggal 24 Juni 2025, untuk 20 hari ke depan, mulai 24 Juni hingga 13 Juli 2025,” ujar Anton kepada wartawan di ruang kerjanya, Selasa (24/6/2025).

Lebih lanjut, Anton menegaskan bahwa penahanan ini mengacu pada Pasal 21 KUHAP, lantaran dikhawatirkan tersangka akan melarikan diri, mengulangi perbuatan, atau merusak barang bukti.

Dalam proses pelimpahan tersebut, jaksa juga mengamankan sebanyak 33 item barang bukti, di antaranya dokumen proyek, perangkat komputer, hingga alat pengukur tanah jenis theodolite.
AM bukan tersangka baru dalam kasus ini.

Ia sempat masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) selama kurang lebih dua tahun. Kejaksaan berhasil menangkap AM saat yang bersangkutan pulang kampung ke wilayah Paciran, Lamongan. “Tersangka ini kita ringkus ketika mudik ke kampung halamannya,” tegas Anton.

Kasus ini bukan yang pertama. Sebelumnya, tiga orang telah lebih dulu diproses hukum dalam perkara serupa dan kini telah menyelesaikan masa pidananya, yakni Mohammad Zaenuri (Direktur CV Media Sarana Teknologi), Rudjito (mantan Kepala Dinas TPHP Lamongan 2017), dan Afrian Aries Sandy (Direktur CV Kahel Tani Putra).
Tersangka AM kini menghadapi ancaman hukuman penjara minimal 4 tahun dan maksimal 20 tahun, serta denda paling sedikit Rp200 juta hingga Rp1 miliar.(Pri)