BAROMETER – Pasca mantan Direktur Utama (Dirut) Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya (PDTS KBS) Chairul Anwar ditetapkan sebagai tersangka korupsi senilai Rp10,2 miliar, kini mencuat kabar adanya dugaan bahwa selama ini pihak management KBS telah menerima pembelian bangkai kambing mati untuk pakan satwa.
Kabar tersebut pun dibantah oleh pihak management KBS melalui Kasi Humas Lintang Ratri Sunarwidhi, bahwa hal tersebut tidak benar. “Info itu tidak benar, kami tidak pernah menerima daging atau pakan dari luar tanpa melalui pemeriksaan higienitas. Jadi, dipastikan kami tidak menerima daging seperti itu,” bantahnya, saat ditemui BNN.com di ruangannya, pada Kamis, 23 Juli 2026 sore.
Namun pihaknya tidak membantah bahwa selama ini hanya menerima kambing hidup untuk kebutuhan pakan komodo.
“Daging yang tidak sehat berpotensi mengandung cacing, termasuk cacing pita, yang sangat berbahaya bagi satwa kami. Bahkan, hewan dari luar seperti kucing atau anjing pun tidak diperbolehkan masuk ke area KBS. Yang kami terima hanya kambing hidup untuk kebutuhan pakan komodo,” ujarnya.
Menurutnya, pihak KBS berkomitmen memberikan pelayanan terbaik bagi satwa maupun pengunjung. “Yang jelas, kami memperlakukan satwa dan pengunjung sebaik-baiknya. Kami tentu terkejut dan syok saat mengetahui adanya pemberitaan mengenai dugaan korupsi yang melibatkan mantan Direktur KBS. Namun, pelayanan kepada satwa tetap menjadi prioritas kami,” tambahnya.
Lintang juga menegaskan bahwa pengawasan di area KBS sangat ketat, dari sudut manapun adanya CCTV. “Dari sudut kandang pun ada kamera CCTV jadi berbuat apapun pasti terlihat, bahkan kalaupun ada karyawan nakal kita pasti ketahuan,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa kebutuhan nutrisi dan suplemen satwa tetap dipenuhi sesuai standar perawatan yang berlaku. “Kami terus memenuhi kebutuhan nutrisi dan memberikan suplemen kepada seluruh satwa agar kesehatannya tetap terjaga,” jelasnya.
Saat disinggung, mengenai jumlah satwa yang meninggal. Ia menyebutkan bahwa angka kematian satwa tidak tergolong tinggi. Sebagian besar kematian terjadi karena faktor usia.
“Kalau yang meninggal tidak terlalu banyak. Kalau sakit atau karena usia tua, itu memang wajar. Yang kami sesalkan adalah masih beredarnya foto-foto lama sebelum KBS dikelola Pemerintah Kota Surabaya, sehingga menimbulkan kesan yang tidak sesuai dengan kondisi saat ini,” terangnya.
Ia juga menegaskan bahwa tidak ada laporan kematian satwa seperti singa maupun harimau dalam pengelolaan saat ini. “Mengenai perawatan harian. Petugas rutin membersihkan kandang setiap hari. Selain itu, pemberian obat cacing dilakukan setiap tiga bulan sekali, sedangkan program vaksinasi dilaksanakan sesuai kebutuhan medis satwa,” kata Lintang.
Lintang juga mengungkapkan bahwa KBS pernah menerima sumbangan daging babi hutan (celeng) pada tahun 1999. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan dan ditemukan adanya cacing pada sebagian daging tersebut, kebijakan penerimaan daging dari pihak luar langsung dihentikan.
“Setelah kejadian itu, kami tidak pernah lagi menerima sumbangan daging dari luar. Dulu bahkan pernah ada tawaran daging kanguru dari Australia, tetapi kebijakan kami tetap mengutamakan keamanan dan kesehatan satwa,” pungkasnya.
Namun berdasarkan sumber berinisal R, bahwa pihak management diduga kuat selama ini telah menerima pembelian bangkai kambing mati yang tidak sehat seharga Rp500 ribu per ekor kambing mati.
“Waktu idul Adha kemarin, banyak pedagang kambing yang menjual kambing mati di sana (KBS). Per ekor kambing mati dengan harga Rp500 ribu, tapi walaupun mati di periksa dulu sama dokternya. Jadi kalau ada kambing mati bisa dijual di sana, dari pada dibuang malah rugi banyak,” ujar pria asal Surabaya, pada BNN.com, Rabu, 22 Juli 2026.
Ia juga mengatakan bahwa sejak Dirut KBS ditangkap kasus korupsi, pihak KBS tidak berani menerima kambing mati lagi. “Baru-baru ini di stop, sejak Dirut KBS ditangkap kasus korupsi kemarin itu. Pada sebelumnya selalu menerima,” pungkasnya.(Ham/Am)

















